Dari Uang ‘Receh’ Jadi Raja Serie A: Drama Seru Como 1907 yang Dibeli Bos Djarum

Selebrasi pemain Como 1907 dengan latar Danau Como pada artikel kebangkitan klub milik bos Djarum ke Serie A

Kalau lo pikir cuma klub Arab atau pengusaha minyak Amerika aja yang bisa bikin gebrakan di sepak bola Eropa, lo wajib dengerin cerita Como 1907.

Klub yang lokasinya ada di pinggir Danau Como—danau cantik di Italia tempat artis Hollywood biasa liburan—ini dulu nasibnya merana banget. Langganan bangkrut, terlupakan, dan sempet terlempar sampai ke Serie D (kasta keempat sepak bola Italia alias liga amatir).

Tapi nasib mereka berubah 180 derajat pas tahun 2019, waktu Hartono Bersaudara (Michael Bambang Hartono & Robert Budi Hartono)—alias bos Djarum Group—resmi mengambil alih klub ini lewat SENT Entertainment.

Bukan cuma soal uang dingin, tapi strategi manajemen mereka yang rapi dan elegan sukses menyulap Como 1907 dari tim hampir ‘almarhum’ jadi pembicaraan hangat di Serie A!

1. Nggak Asal Bakar Uang, Tapi Dibenahi dari Akar

Beda sama klub kaya baru yang biasanya begitu beli tim langsung flexing borong pemain bintang harga triliunan, bos Djarum pakai gaya pengusaha sejati: santai tapi mematikan.

Langkah awal mereka bukannya gaya-gayaan, tapi bayar utang klub, benerin manajemen internal, dan ngerapiin stadion tua mereka, Stadio Giuseppe Sinigaglia. Mereka mau bikin pondasi klubnya kokoh dulu, bukan sekadar bikin hype sesaat yang ujung-ujungnya bikin bangkrut lagi.

2. Jualan Sepak Bola Pakai Vibe Estetik & Pemain Kelas Dunia

Nah, di sini pinter-nya manajemen Como. Mereka sadar kalau Danau Como itu tempat estetik yang dijual ke turis-turis kaya dunia. Jadi, Como 1907 nggak cuma dijual sebagai tim sepak bola, tapi sebagai gaya hidup (lifestyle brand).

  • Nonton Bola Sambil Cuci Mata: Nonton pertandingan Como itu dapet bonus pemandangan gunung dan danau yang super keren. Turis-turis yang lagi jalan-jalan di Italia diajak buat mampir nonton.
  • Magnet Legenda Dunia: Siapa yang sangka, nama-nama gede kaya Cesc Fàbregas dan Thierry Henry mau gabung jadi investor minoritas di klub ini? Malah Fàbregas ketagihan sampai akhirnya turun tangan langsung jadi pelatih kepala Como!

3. Merangkak dari Bawah: Akselerasi Tanpa Rem ke Serie A

Proses naik kelas Como ini tergolong super cepat tapi tetap masuk akal:

  • 2019: Dibeli di Serie D, langsung promosi ke Serie C.
  • 2021: Menguasai Serie C, naik kelas ke Serie B.
  • Musim 2023/2024: Puncak aksinya! Como 1907 mengunci posisi runner-up di Serie B dan dipastikan promosi ke Serie A setelah absen selama 21 tahun!

Bayangin, cuma butuh waktu sekitar 5 tahun dari liga amatir yang main di lapangan seadanya sampai akhirnya bisa tanding satu lapangan lawan AC Milan, Inter Milan, dan Juventus. Gokil!

4. Efek “Kearifan Lokal” di Indonesia

Meski Como 1907 ini klub Italia murni dan bukan tempat penampungan pemain timnas kita, dampak akuisisi bos Djarum ini bikin netizen Indonesia mendadak punya tim kesayangan baru di Eropa.

Setiap kali Como main atau posting di media sosial, kolom komentarnya langsung dipenuhin netizen Indonesia. Ada rasa bangga tersendiri ngeliat orang Indonesia bisa bikin klub Eropa yang tadinya sekarat jadi tim berprestasi dan sangat disegani.

Kesimpulan

Kisah Como 1907 di tangan Hartono Bersaudara itu bukti nyata kalau kesuksesan di sepak bola modern nggak melulu soal “siapa yang paling banyak bakar uang”.

Kombinasi antara strategi bisnis yang matang, kesabaran, visi yang jelas, dan penempatan orang-orang yang tepat (kayak Fàbregas) bisa nyulap tim papan bawah jadi kuda hitam menakutkan di kompetisi kasta tertinggi Italia. Respect buat Como 1907!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *